Pages

Sabtu, 04 Agustus 2012

TIGA ABAD PERTAMA KEKRISTENAN


TIGA ABAD PERTAMA KEKRISTENAN
PERSPEKTIF SEJARAH
Oleh: Nur al-Kalam

BAB I. PENDAHULUAN
1.                  Latar Belakang.
Studi sejarah mengenai Kekristenan merupakan suatu rentang waktu sejarah yang amat panjang untuk diteliti. Banyak sisi kontroversi yang senantiasa muncul dalam mengungkap fakta sejarah yang benar-benar otentik. Namun, eksplorasi mengenai fakta sejarah itu selalu berujung pada perbedaan. Dan terkadang bertolak belakang antara fakta sejarah yang satu dengan fakta sejarah yang lain. “Apakah Yesus mati di atas tiang salib?” Merupakan satu dari sekian banyak subjek yang terus menjadi kontroversi. Setiap pihak memiliki pandangannya sendiri mengenai hal ini. Argumentasi-argumentasi bermunculan untuk mendukung  pandangan mereka. Inilah sumber kesulitan yang menjadi hambatan bagi seorang peneliti dalam mengadakan studi sejarah untuk mengungkap sejarah Kekristenan dalam tiga abad pertama.

Meskipun demikian tulisan ini akan membawa pembuktian suatu perjalanan sejarah ajaran Kristen menuju pendistorsian akidahnya yang otentik yang berasal dari Yesus Kristus sehingga di masa kini, kita hanya menemukan ajaran Kristen yang telah jauh berbeda dengan apa yang pernah di bawa oleh Yesus Kristus. Mungkin terlihat subyektif pandangan ini tetapi ini yang menjadi keyakinan kami. Kami akan menyampaikan bukti-bukti yang faktual untuk mendukung pandangan kami ini.
Banyak para penulis berusaha memberikan kronologi perjalanan sejarah Kekristenan yang benar-benar otentik. Namun isu mengenai telah terjadinya pendistorsian akidah dalam diri Kristen tidak diberikan suatu penekanan yang khusus mengenai hal itu. Itulah mengapa perjalanan Kekristenan selalu berhubungan dengan perkembangan agama Kristen.
Evolusi sejarah Kristen dianggap sebagai suatu perkembangan dalam ranah kuantitatifnya. Semakin hari semakin banyak yang memeluk agama ini. Perkembangan kualitatif dalam arti evolusi sejarah Kristen luput dalam pandangan para peneliti. Meskipun ada juga literatur  yang mengungkap evolusi ajaran Kristen dalam ranah kualitatifnya, namun semua hanya menjadi konsumsi peneliti bukan untuk masyarakat awam yang mereka memeluk agama Kristen. Sejarawan Kristen seakan bungkam atas hasil risetnya yang banyak membuat indikasi telah terjadinya pendistorsian ajaran Kristen.
Inilah yang menjadi fokus tulisan ini. Untuk memberikan sedikit manfaat dari hasil riset para sejarawan yang telah berusaha dengan gigih menyusun perjalanan sejarah Kekristenan. Tulisan ini akan mencoba menggambarkan sejarah perjalanan ajaran Kristen menuju suatu dunia khayali yang telah dibuat oleh mereka yang ingin mendapat keuntungan dari apa yang mereka perbuat.

II. Batasan Masalah.

Tulisan ini akan membatasi permasalahan yang sedang dikaji pada sebuah pertanyaan, apakah telah terjadi pendistorsian ajaran Kristen di tiga abad pertama Kekristenan? Dan apakah ide-ide Paganismee yang telah mewarnai ajaran Kristen masa kini?

III. Tujuan Dan Kegunaan.

Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan fakta sejarah bahwa telah ada interpolasi akidah dalam tubuh agama Kristen dalam kurun waktu tiga abad pertama.
Ada pun kegunaan dari penelitian ini adalah pertama, hasil kajian ini diharapkan dapat membuktikan bahwa ajaran Kristen yang sekarang ini telah jauh menyimpang dari ajaran yang dibawa Yesus Kristus. Kedua, tulisan ini di harapkan dapat menjelaskan bahwa telah terjadinya interpolasi akidah dalam ajaran Kristen yang murni.

IV. Metodelogi Penelitian.

Sesuai permasalahan yang diteliti, kajian ini menggunakan pendekatan sejarah yang bertumpu pada empat kegiatan pokok meliputi: 1. Heuristik, tahap mencari dan mengumpulkan sumber-sumber yang relevan, 2. Kritik sejarah, menilai apakah sumber-sumber itu asli atau tidak, 3. Interpretasi, menetapkan saling hubung antar fakta yang di peroleh, 4. Historiografi, penulisan Kisah sejarah.
Dengan pendekatan ini, hal yang ingin dicapai adalah sebuah penulisan sejarah yang kritis yang mampu menelusuri latar belakang, hubungan-hubungan yang terkait, kecenderungan-kecenderungan yang tumbuh dalam perjalanan ajaran kristen menuju pendistorsian akidah.
Oleh karena itu, konsep ilmu pengetahuan sosial dan keagamaan di perlukan untuk mengungkap berbagai aspek kehidupan yang terstruktur dalam peristiwa masa lampau agar lebih bermakna. Dengan demikian, kajian ini di harapkan dapat memberikan prespektif yang lebih luas dan mendalam, dalam dimensi waktu yang meliputi kurun waktu tiga abad Kekristenan.
BAB II. PEMBAHASAN

1.      Awal Mula Istilah Orang-orang Kristen
Masa sebelum penyaliban Kristus tidak pernah ditemukan istilah orang-orang Kristen untuk memberikan identitas kepada para pengikut Yesus, mengapa? Karena mainstream pemeluk agama masa itu, yakni mereka yang menganut agama yahudi, tidak mau menerima Yesus sebagai Mesiah dan Kristus yang telah dinubuatkan di dalam Taurat. Dan istilah yang digunakan untuk menamai para pengikut Yesus adalah nazarenis. Nama ini dilekatkan kepada para pengikut Yesus karena keluarganya menetap di kota kecil Nazareth dalam wilayah Galilea meskipun ia lahir Bethlehem. Dan istilah ini dipakai hingga beberapa tahun setelah peristiwa penyaliban.
“Telah nyata kepada kami, bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia yang beradap, dan bahwa ia adalah seorang tokoh dari sekte orang nasrani”. (Kisah 24:5)
Jauh setelah peristiwa penyaliban penyebutan “orang-orang Kristen” untuk para pengikut Yesus mulai dipakai, namun tidak di Yerusalem. Awal mula penamaan ini dimulai dengan penyebaran Injil keluar wilayah Palestina. Terutama di wilayah Antiokhia di Siria Utara, para penduduk di sana mulai menamakan para pengikut Yesus sebagai “orang-orang Kristen” .
Secara singkat, sejarah penamaan “orang-orang Kristen” dimulai sejak Barnabas dan Paulus menyebarkan Injil di luar Palestina. Mereka berdua meyakinkan orang-orang Yahudi dan non-Yahudi bahwa Yesus yang mereka berdua imani adalah Kristus. Maka, sejak itulah orang-orang Antiokia menyebut mereka sebagai orang-orang Kristen.
Sebanarnya penggunaan kata itu hanya sebatas ejekan, nama itu seperti halnya sebutan “metodis” pada waktu kemudian, diterima oleh mereka yang diejek. Lama-kelamaan orang percaya harus menjawab pertanyaan ‘Apakah kamu Kristen?’ Tidaklah memalukan untuk menerima maksud sebuah nama kehinaan, jika nama itu berisi nama juru selamat (1 Ptr 4:16). Dan nama itu mempunyai kelayakan tertentu. Ia memusatkan perhatian kepada unsur yang membedakan di dalam agama baru ini, yakni bahwa itu berpusat kepada pribadi Kristus. Jika nama Christus tidak dimengerti oleh kebanyakan non-Kristen, dan mereka kadang-kadang mengacaukannya dengan nama umum Chrestos yang berarti baik, baik hati, hal itu adalah paronomasia yakni permainan kata, yang dapat dipakai untuk menghasilkan yang baik, demikianlah dalam keputusan awal abad 2, nama itu dipakai tanpa persoalan oleh uskup Kristen Ignatius (di Antiokhia) dan oleh wali negeri Pliny (di daerah yang disebut dalam 1 Ptr).[1]

2.     Para Pengikut Awal Yesus (Pasca Penyaliban)
Setelah peristiwa penyaliban wujud Yesus telah tiadaapakah ia telah terbenam dalam kuburnya atau telah diangkat ke surga atau ia mengadakan perjalanan ke luar Palestina untuk mencari sisa-sisa dari rumpun suku Bani Israil. Merupakan keniscayaan bahwa harus ada pengganti Yesus sesudah ketiadaan wujudnya. Namun, sebuah dilema muncul dan menciptakan kebingungan di antara para pengikut awal Yesus.
Sebelum kedatangan Paulus, perseteruan antara Yakobus dan Petrus terjadi untuk menentukan siapa yang akan menggantikan Yesus. Pemilihan Yakobus dikaitkan dengan aspek silsilah keturunan sedangkan pemilihan Petrus dikaitkan dengan aspek wasiat Yesus dalam suatu sabdanya. Pada akhirnya, Yakobuslah yang dipilih untuk menggantikan posisi Yesus.
Setelah kedatangan Paulus, iklim keagamaan di Palestina mulai mengalami suatu fluktuasi. Paulus bertobat dan ia menjadi pengikut Yesus yang setia. Namun, masuknya Paulus malah menciptakan kerunyaman dalam diri Kristen. Dia malah menyebarkan Injil kepada non-Yahudi yang berada di Yerusalem. Banyak orang-orang Paganis yang masuk dan beriman kepada Kristus. Inilah awal mula terjadinya “Konsili Yerusalam” yang mencoba mengubah otentisitas ajaran Yesus untuk mengadaptasikannya dengan mereka yang non-Yahudi.
Konsili Yerusalem” terjadi pada tahun 49M. Mereka yang merupakan para penganut Paganismee yang masuk ke dalam tubuh Kristen, mengajukan aturan khusus untuk membebaskan mereka dari khitan dan upacara-upacara Yahudi. Bagi Paulus, khitan, liburan hari Sabtu dan upacara di tempat ibadah tidak perlu lagi, baik untuk pengikut Yesus atau untuk orang Yahudi sendiri. Agama Kristen harus membebaskan diri dari hubungan “Politico Religius” dengan agama Yahudi, dan membuka diri bagi orang Gentile (non-Yahudi).[2]
Ada sebuah kontroversi mengenai penyebaran Injil. Di bawah kepemimpinan Yakobus, para pengikut awal Yesus berpegang teguh pada Matius 15:24 :
“ Jawab Yesus: Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel”.
Akan tetapi, pandangan Paulus dengan merujuk pada Matius 28:19 menolak pendirian Yakobus bahwa Injil harus disampaikan kepada bangsa lain yakni mereka yang non-Yahudi.
“ Karena itu pergilah, Jadikanlah semua bangsa muridku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”. (Matius  28:19)
Penyebaran Injil keluar wilayah Palestina memang dilakukan oleh para pengikut Yakobus. Tetapi, ini dilakukan kepada orang-orang Yahudi yang telah mengalami diaspora setelah pembantaian oleh Nebukadnezar. Ternyata, hal ini dimanfaatkan oleh Paulus untuk memperkenalkan ajaran Yesus kepada bangsa non-Yahudi. Petruspun diKisahkan, dalam sebuah buku, menyebarkan Injil kepada orang-orang non-Yahudi. Namun, sepertinya ada suatu keterpaksaan dalam diri Petrus, karena ia menjadi malu saat para pengikut golongan Kristen Yahudi (para pengikut Yakobus) mendapatinya. Paulus mencela perbuatan Petrus ini bahwa cara hidupnya selaras dengan ajarannya.

3.     Paulus dan Kekristenan
Paulus yang nama aslinya adalah  Saul (Kisah 13:9) ia berasal dari Bandar Tarsut (Kisah 22:3), sebuah Bandar dagang bangsa Yunani yang  terpandang makmur dewasa ini dalam wilayah Kilikia di Asia Kecil. Pendatang-pendatang Yahudi yang menetap sekian lamanya pada bandar dagang yang makmur itu telah menyerap kebudayaan Yunani dan bahasa Yunani. Mereka yang telah menganut budaya Helenistik Yahudi yaitu orang-orang Yahudi yang telah menyerap kebudayaan Helenistik. [3]
Keimanan kepada Yesus bermula dari perjalanannya menuju Damaskus sekitar tahun 321 M. diceritakan bahwa cahaya memancar dengan sangat terang di sekitar dirinya dan terdengar suara, yaitu suara Yesus Kristus. Sejak itulah Paulus  beriman dan ia ditiunjuk Yesus untuk menjalankan misinya.
“Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat ke kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit dan mengelilingi dia, ia rebah ke tanah, terdengarlah olehnya suara-suara yang berkata kepadanya : ‘Saulus, Saulus mengapa engkau menganiaya aku?’ Jawab saulus, ‘Siapakah Engkau Tuhan?’ katanya : ‘Akulah Yesus yang kau aniaya itu, tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kau perbuat.’ (Kisah 9:3-6)
Mengenai Kisah ini ada suatu kejanggalan mengenai keadaan teman-teman seperjalanan Paulus. Di beberapa tempat dalam “Kisah Para Rasul”, ditemukan kontradiksi 3 keadaan yang berlainan. Apalagi hal ini terjadi dalam 1 kitab, bukan berlainan kitab. Mari kita amati sinopsis berikut :
Dalam Kisah 9:7
“maka termangu-mangulah teman-teman seperjalanannya, karena mereka mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang juga pun.”
Dalam Kisah 22:29
“dan mereka yang menyertai aku memang melihat cahaya itu, tetapi suara Dia, yang berkata kepadaku, tidak mereka dengar.”
Dalam Kisah 26:13-14
“tiba-tiba, ya raja Agripa, pada tengah hari bolong, aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang dari pada cahaya matahari, turun dari langit melewati aku dan teman-teman seperjalananku. Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suara-suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani : ‘Saulus, saulus mengapa engkau menganiaya aku?’ ”

Dari sinopsis tersebut kita dapat menyimpulkan, dalam Kisah 9:7 diKisahkan bahwa teman seperjalanan Paulus tidak melihat cahaya tetapi mendengar bunyi suara. Tetapi dalam Kisah 22:9 mereka melihat cahaya hanya saja mereka tidak mendengar bunyi suara. Dan dalam Kisah 26 : 13-14 mereka melihat cahaya dan mendengar bunyi suara.
Selanjutnya Paulus sendiri bercerita tentang dirinya di dalam suratnya pada masa belakangan kepada Jemaat Asing di Galatia, Asia Kecil, bahwa sekalipun ia sudah beriman akan tetapi Paulus itu tidak pernah berjumpa dan berkenalan dengan murid Yesus yang dua belas (twelve diciples) di Yerusalem, kecuali dengan Simon Petrus di Yerusalem, dan itupun hanya 15 hari saja (Galatia 1 : 17-19).[4]
Semenjak pecah pertentangan sengit antara Barnabas dengan Paulus pada kota besar Antiokia (Kisah 15 : 39-41), dan pertentangan sengit antara Petrus dengan Paulus pada kota besar Antiokia itu (Galatia 2 : 11-21), maka Paulus bersama Silas meninggalkan kota besar Antiokia dan menjalankan misinya sendiri serta menyebarkan ajarannya sendiri dalam lingkungan orang asing (Gentile) yang bukan Yahudi dalam wilayah Asia Kecil dan wilayah Makedonia semenanjung Achaia (Yunani).[5]
Apabila kita analisis Kisah Rasul-rasul dari pasal 16 – 28, kita hanya menemukan peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan kegiatan Paulus yang berlangsung dalam lingkungan orang asing (Gentile). Tidak ada kegiatan dari Rasul-rasul yang lainnya, yakni kegiatan Murid Yesus yang 12, yang diceritakan dalam Kisah Rasul-rasul.

4.     Penyebaran Injil ke Luar Yerussalem
Gagasan mengenai ini muncul terutama dipelopori oleh Paulus, meskipun Petrus beserta pengikutnya juga mengadakan penyebaran Injil ke luar wilayah Yerusalem. Namun dalam kasus Petrus masih menyimpan kontroversi, apakah dia menyebarkan Injil hanya kepada orang Yahudi saja atau kepada non-Yahudijuga. Kebanyakan peneliti berkesimpulan bahwa Petrus hanya menyebarkan Injil kepada orang-orang Yahudi saja. Hal ini terlihat jelas dengan terputusnya Kisah 12 orang rasul dalam kitab “Kisah Para Rasul”. Selain itu persinggungan gagasan yang terjadi antara Paulus dan Petrus merupakan indikasi bahwa Petrus tidak akan mengekor dengan gagasan Paulus, apalagi gagasan tersebut bertolak belakang dengan Yakobus.
Tampaknya, Paulus dengan berlatar belakang orang non-Yahudi yang dibesarkan dengan kebudayaan Helenistik dan sudah terbiasa dengan kebudayaan para penyembah berhala, tidak sepenuhnya mengetahui ajaran Yesus dan bagaimana hubungan syariat Yahudi dengan ajaran Yesus. Pertemuannya dengan Yesus yang didasarkan pada pengakuannya sendiri dalam suatu alam bawah sadar, tidaklah cukup untuk membuktikan bahwa ia paham sepenuhnya mengenai Kekristenan. Melihat stagnasi yang terjadi dalam kegiatan dakwah pengInjil-pengInjil di wilayah Yerusalem, Paulus mencoba menyingkirkan kejumudan ini dengan mengadakan Injilisasi ke luar daerah Yerusalem dan kepada non Yahudi.
Namun, ia merasakan bahwa ada satu ganjalan yang ia hadapi ketika proses Injilisasi dilakukan. Mereka yang non-Yahuditidak bisa  melepaskan pakaian Paganismee yang telah melekat dengan kuat dalam diri mereka. Monotistik dipandang barang baru yang terlihat aneh dan tidak sesuai dengan kepercayaan mereka. Sepertinya terdapat 2 pilihan bagi Paulus pada saat itu, melakukan peperangan sengit dengan paham politistik atau paganis itu yang telah mengakar kuat dalam kepercayaan masyarakat non Yahudi, atau menyerah pada mereka dan membiarkan Kristen mengalami perubahan sehingga cepat beradaptasi dengan keparcayaan-kepercayaan itu.
Inilah yang Paulus pilih, menciptakan suatu kamuflase dalam diri Kristen agar bau perbedaan tidak tercium dan mereka dapat tetap merasakan dunia khayali yang dipenuhi dengan legenda-legenda serta mitologi-mitologi yang secara turun-temurun diwariskan kepada mereka. Paulus mendapati bahwa penerapan pilihan ke-2 jauh lebih menguntungkan dan menyenangkan sehingga dia terpaksa merubah ajaran Kristen sesuai dengan keinginan-keinginan dan falsafah-falsafah yang populer di dunia non yahudi.
 Namun sebuah kesulitan harus muncul mengenai sebaerapa besar pengaruh gagasan baru yang diciptakan oleh Paulus bagi perkembangan Kristen versi Paulus. Belum ada penelitian yang komprehensif untuk menjelaskan seberapa  luas daerah-daerah yang telah menerima konsep baru ajaran Kristen versi Paulus itu. Semua ini disebabkan karena para sejarawan Kristen, kebanyakan berusaha menyembunyikan teori pendistorian ajaran Kristen itu. Yang kita dapatkan sekarang mengenai paulus adalah segala kegiatan keagamaan dia terutama Injilisasi adalah benar dan Pauluslah satu-satunya orang yang memiliki rasa iba kepada orang-orang non-Yahudiyang telah terjerumus dalam kekafiran.
Misi Paulus yang pertama terjadi di tahun 46 M. Ia bersama Barnabas memulai perjalanan menuju Antiokhia. Mereka menjelajahi pulau Siprus dan melintasi Galatia selatan (Kisah 13-14). Cara kerja mereka, yang menjadi pola Paulus dalam pemberitaan Injil, ialah mula-mula berkhutbah di sinagog. Ada orang Yahudi dan orang non-Yahudiyang takut akan Allah, menerima pemberitaan mereka dan menjadi anggota perkumpulan setempat.
Orang Yahudi yang menerima pemberitaan mereka merupakan orang-orang Yahudi yang mengalami diaspora di zaman Nebukadnezar. Ketika orang-orang non-Yahudimasuk membanjiri ajaran kristen, muncul permasalahan berupa ketegangan antara orang-orang Yahudi dengan non Yahudi. Orang-orang Yahudi tidak menghendaki akulturasi budaya dan hukum-hukum non-Yahudimasuk dalam Kekristenan. Untuk meredam semua ini, paulus mencoba memperkenalkan formulasi barunya mengenai Kekristenan. Ia membuatnya lebih transparan agar dapat diterima oleh mereka yang non yahudi. Oleh karena itu dikatakan :
Sebab adalah keputusan roh kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini.” (Kisah 15:28)
Karena perbedaan pendapat dengan Barnabas perihal membawa Yohanes Markus lagi bersama mereka (Kisah 15:38-39), Paulus memilih teman baru yaitu Silas, pada perjalanan penginjilan ke-2 (Kisah 15:40; 18:22). Dari Antiokhia mereka menempuh jalan darat ke jemaat-jemaat Galatia selatan. Di Listra pemuda Timotius bergabung dengan mereka. Karena dilarang oleh roh kudus untuk memberitakan Injil ke wilayah barat, mereka menuju utara ke Galatia utara, dan di situ mungkin ada orang yang bertaubat (Kisah 16:6, 18:23). Di Troas dalam penglihatan Paulus melihat “seorang Makedonia” memanggil dia. Dengan demikian mulailah penginjilan di Yunani. Di Makedonia penginjilan dilakukan di Filipi, Tesalonika, dan Bered, di Akhaya atau Yunani selatan, dikunjunginya Atena dan Korintius. Paulus tinggal di Korintius hampir 2 tahun dan membangun suatu persekutuan Kristen, yang di kemudian hari menjadi sumber suka cita maupun cobaan.[6]

5.     Kristen Ketika di Roma
Di sekitar tahun 60 M,Kekristenan mulai memasuki era transparansi. Sepertinya Paulus berhasil memperkenalkan Kristen menurut versinya yang sangat fleksibel. Hal ini juga dipengaruhi oleh semakin bijaknya kekaisaran Romawi dalam menjaga kedamaian di setiap wilayah kekuasaan mereka. Di era itu,Yudaisme dilindungi dan dijadikan sebagai agama yang resmi,meskipun monoteismenya dan pernyataan Alkitabnya telah memisahkannya dari cara pemujaan lain.
Melihat keadaan  yang kondusif ini, para pengabar Injil dengan leluasa mengabarkan Injil ke wilayah-wilayah kekaisaran. Kristen masih dipandang bagian dari ajaran Yudaisme sehingga tidak perlu dipermasalahkan. Ini bisa terjadi karena; pertama, Kristen merupakan turunan dari syariat Musa sehingga ada istilah 'golongan Kristen yahudi'. Kedua,seperti yang disebutkan  pada bahasan 'awal mula istilah orang-orang Kristenbahwa karena orang-orang non-Yahudi tidak mengerti dengan istilah" Christos" dan menggunakan kata "chreshes" yang berarti baik sebagai sebuah paranomania yaitu permainan kata.
Di kota-kota besar kekaisaran, seperti Roma, Korintus, Athena, ajaran Kristen mulai dikenal dan diterima secara luas. Rumah-rumah ibadah didirikan,tidak hanya di wilayah-wilayah pedalaman tetapi juga di kota-kota besar. Kota Roma sebagai ibukota kekaisaran tidak luput dari proses Kristenisasi. Orang-orang Roma berduyun-duyun masuk ke  dalam ajaran ini. Perlu dicatat, bahwa tidak ada sumber sejarah yang lengkap, baik dari pihak Kristen maupun di luarnya, yang memaparkan ajaran Kristen yang mana yang memenangkan hati orang-orang Roma.  Para peneliti seakan-akan melupakan paradoks dan menyimpulkan hanya ada satu oknum yang memainkan peranannya yang tunggal. Kita akan melihat hal ini terasa irrasional di bahasan selanjutnya.
Menjelang tahun 64 M, beberapa pejabat Romawi mulai sadar bahwa Kekristenan sama sekali berbeda dengan agama Yahudi. Orang-orang Yahudi menolak orang-orang Kristen dan lebih banyak melihat Kekristenan sebagai agama yang tidak sah.  [7]
Diceritakan bahwa awal mula penentangan terhadap ajaran Kristen di kekaisaran Romawi adalah karena ajaran Kristen menentang konsep-konsep politeisme. Orang-orang di Roma yang terbiasa dengan politeisme merasa terganggu dengan kemunculan ajaran Kristen. Penulis pun melihat keadaan ini terasa ada kejanggalan. Di satu sisi, mereka yang mengabarkan Injil ke luar Yerusalem telah memasukkan unsur-unsur Paganismee agar dapat beradaptasi dengan orang-orang non-Yahudi. Tetapi,mengapa Kristen ditentang habis-habisan bahkan ketika peristiwa kebakaran di Roma, mereka yang dijadikan kambing hitam sebagai pelaku peristiwa kebakaran itu?
Nampaknya akan tergenapi apa yang dikabarkan dalam Kisah 23:11 yang berbunyi:
"Pada malam berikutnya Tuhan datang berdiri di sisinya dan berkat kepadanya: kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem. Demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma."
Karena dianggap murtad dari agama Yahudi, Paulus diburu dan akan diadili atas keimanannya kepada Yesus. Setelah mengadakan pemberitaan Injil ke daerah orang-orang non-Yahudi (Gentile), ia kembali ke Yerusalem. Dan di sanalah ia ditangkap oleh para pemuka agama Yahudi lalu diserahkan kepada imam besar di Yerusalem.
Oleh karena ia memiliki kewarganegaraan Roma (Kisah 23:27), bukan lagi kewarganegaraan Yahudi, maka Mahkamah Yahudi di Yerusalem tidak berhak mengadilinya dan terpaksa menyerahkannya kepada Felix, Penguasa Romawi di wilayah Palestina.
Paulus ditahan dua tahun lamanya dalam penjara  di Kaisaria, dan sewaktu Felix digantikan oleh Festus, maka perkara Paulus terus diserahkan Felix kepada penguasa Roma yang baru itu (Kisah 23:27). Di tangan penguasa yang baru itulah Paulus dikirim ke Roma untuk diadili oleh Mahkamah disitu karena memiliki kewarganegaraan Roma. Kisah Rasul-Rasul pasal 27 dan 28 bercerita tentang pelayaran Paulus ke Roma dengan berbagai pengalamannya. Kisah terhenti sampai di Roma dan tidak diceritakan bagaimana keputusan di Roma dan bagaimana nasib selanjutnya dari Paulus. [8]
Bersamaan dengan datangnya Paulus di tahun 64 M, api permusuhan kepada orang-orang Kristen semakin berkobar. Dan ini terjadi pada masa kekuasaan Kaisar Nero. Kebakaran besar terjadi di Roma yang menimpa pemukiman masyarakat yang baru dibangun. Teori yang muncul adalah disebabkan Kaisar Nero ingin membangun sebuah istana emas, maka jalan pintasnya adalah membumihanguskan wilayah pemukiman tersebut.
Untuk mengelakkan tuduhan atas dirinya, Kaisar itu mengkambing-hitamkan orang-orang Kristen. Ia menuduh bahwa mereka-lah yang memicu kebakaran tersebut. Akibatnya Nero bersumpah untuk memburu dan membunuh mereka. [9]

6.     Penghancuran Yerussalem                                                                
           Penghancuran Yerussalem terjadi sekitar tahun 70 M. Peristiwa ini dimulai dengan munculnya semangat revolusi untuk terbebas dari kekuasaan kekaisaran Romawi yang tirani. Orang-orang yahudi merasa penindasan yang kaisar  lakukan sudah diambang batas kemanusian. Salah satu contohnya adalah Gesius Florus. Ia begitu mencintai uang dan membenci orang-orang Yahudi sebagai wakil Roma. Ia memerintah Yudea dengan tidak memandang kepekaan akan agama ketika pemasukan pajak menurun, ia pun mulai merampas benda-benda perak dari Bait Allah. Pada tahun 66 M, ketika kerusuhan menentang dia merebak, ia mengirim pasukan ke Yerusalem untuk menyalib dan membantai sejumlah orang Yahudi.[10]
Tindakan Florus inilah yang mulai memicu pemberontakan yang telah lama disimpan oleh orang-orang Yahudi. Pemberontakan pertama meletus di Masada, sebuah bukit karang yang menghadap laut mati, tempat Herodes membangun istananya dan Orang-orang Romawi mendirikan benteng. Orang-orang zelot memutuskan untuk menyerang benteng itu, yang mengherankan, mereka menang dan membantai tentara Romawi yang berkemah di sana.
Di Yerussalem, kepala Bait Allah menyatakan pemberontakan terbuka melawan Roma dengan menghentikan persembahan harian untuk Kaisar. Tidak lama kemudian seluruh Yerusalem menjadi rusuh, pasukan Romawi diusir dan di bunuh. Yudea memberontak, kemudian Galilea, untuk sementara waktu tampaknya orang-orang Yahudi unggul.
 Cestius Gallus, Gubernur Romawi untuk daerah itu berangkat dari Siria dengan 20 ribu tentara. Ia menguasai Yerusalem selama 6 bulan namun gagal dan kembali. Ia meninggalkan 6 ribu tentara Romawi yang tewas dan sejumlah besar persenjataan yang dipungut dan dipakai orang-orang Yahudi.
Kaisar Nero mengirim Vespassianus seorang  jendral yang anugerahi banyak bintang jasa, untuk meredam pemberontakan. Vespassianus pun melumpuhkan kelompok pemberontak tersebut secara bergilir.  Ia memulainya di Galilea kemudaian di Transyordania dan setrusnya di Idonia setelah itu ia mengepung Yerosalem.
Akan tetapi sebelum ia menjatuhkan Yerusalem Vespassianus dipanggil pulang ke Roma, Nero wafat. Pergumulan untuk mencari pengganti Nero berakhir dengan keputusan Vespasianus sebagai kaisar. Titah kekaisaran pertamanya ialah penunjukan anaknya, Titus, untuk memimpin perang Yahudi.
Maka  Yerusalem pun menjadi sasaran empuk setelah terpisah dari daerah-daerah lain. Beberapa fraksi (kelompok) dalam kota itu sendiri berebut mengatur strategi pertahanan. Ketika pengepungan sedang berlangsung, penduduk kota pun satu demi satu mati karena kelaparan dan wabah penyakit. Istri Imam kepala yang biasanya menikmati kemewahan, turun ke jalan untuk memungut sisa makanan.
Sementara itu, pasukan Romawi menggelar mesin-mesin perang baru, yaitu mesin pelontar batu untuk meruntuhkan tembok-tembok yang melindungi kota. Balok pendobrak pintu gerbang merobohkan benteng pertahanan. Orang-orang Yahudi berperang sepanjang hari, dan pada malam hari mereka berjuang untuk membangun kembali tembok-tembok yang runtuh.
Akhirnya ,Orang-orang Romawi merobohkan tembok lapisan luar, kemudian lapisan kedua dan akhirnya yang ketiga. Namun, orang-orang Yahudi masih berperang sambil merangkak menuju Bait Allah sebagai garis pertahanan terakhir.[11]
Lalu, setelah Yerusalem jatuh di tangan kekaisaran Romawi, apa yang terjadi dengan Kekristenan? Kebanyakan buku menceritakan  bahwa mereka melarikan diri ke Pella di seberang sungai Yordan dalam wilayah Transyordania. Mereka diceritakan menolak untuk mengangkat senjata dan melawan orang-orang Romawi.
Ada satu  fenomena yang menarik pasca penghancuran Yerusalem. Ini berkaitan dengan bagaimana kesudahan dari golongan Yahudi Kristen dan golongan Kristen versi Paulus. Sebelum peritiwa penghancuran itu secara kuantitas para pengikut ajaran Yahudi Kristen yakni para pengikut Yakobus, mendominasi dan diberikan jaminan perlindungan oleh kekaisaran Romawi karena merupakan bagian dari agama Yahudi. Namun waktu merubah segalanya. Dominasi tidak lagi diletakkan dalam pangkuan golongan Yakobus. Terjadinya pemberontakan Yahudi melawan kekaisaran Romawi dan jatuhnya Yerusalem pada thn 70 M, membuat keadaan ini berbalik. Kardinal Danielon menerangkan kemunduran ini sebagai berikut:
”Karena orang-orang Yahudi tidak percaya lagi di dalam kerajan Romawi maka orang-orang Kristen menjauhkan diri dari mereka. Agama Kristen memisahkan diri dari mereka. Agama Kristen seperti yang tersiar di negeri Yunani mendapat kemajuan. Paulus mendapat kemenangan sesudah ia sendiri mati. Agama Kristen memisahkan diri dari Agama Yahudi baik secara sosiologis maupun secara politis, dan menjadi kelompok ketiga, yakni disamping Yahudi dan kafir. Tetapi meskipun begitu sampai pemberontakan Yahudi yang terjadi pada tahun 140, Agama Yahudi Kristen masih dominan secara kebudayaan”.[12]
Inilah masa dimana Kristen memisahkan diri dari syariat Musa as. padahal yang memisahkan diri adalah Kristen versi Paulus dan ini telah dirancang sejak tahun 40-an M. Mereka yang masih tetap teguh dengan syariat Musa as., kehilangan dominasi dan suara sehingga mereka menjadi golongan yang termarjinalkan. Hingga masa setelah Konsili Nicea, yang akan kami terangkan belakangan, Kristen benar-benar telah keluar dari syariat Musa as. dan hal ini bertentangan dengan pernyataan Yesus sendiri:
 “Janganlah kamu menyangka, bahwa aku datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat dan Kitab para Nabi, melainkan untuk menggenapinya”(Matius 5:17).
 Setelah penganut agama Yahudi Kristen tidak lagi merupakan kelompok yang berpengaruh, mereka itu hanya dinamakan ”Yudaisants” yakni orang-orang yang condong kepada agama Yahudi. Kardinal Danielon menulis: “Orang-orang Yudeo Kristen terputus dari pada gereja besar dengan membebaskan diri dari pengaruh Yahudi dan mereka itu musnah dengan cepat di Barat, akan tetapi mereka masih terdapat di Timur pada abad ketiga dan keempat khususnya di Palestina, Arabia, Yordania, Syiria, Mesopotamia (Irak). Di antara mereka banyak yang telah memeluk agama Islam, yang memang merekalah pewaris agama Kristen dari satu segi, lainnya mengikuti Ortodoksi gereja besar dengan mempertahankan kebudayaan”Semik”, seperti yang masih terdapat di Ethiopia dan Babilonia”[13]   

7.      Tokoh-tokoh Kristen di Tiga Abad Pertama
a.       Yustinus Martir (150 M)
Ia merupakan seorang filosof yang mempelajari ajaran-ajaran Stoa, Aristoteles, dan Phythagoras serta Plato. Ia non-Yahudi yang lahir di daerah Yahudi (Sikhem Kuno). Ia menjadi seorang Kristen Sejak merenungkan tulisan-tulisan Taurat, membaca Injil dan Surat-surat Paulus.
Menjelang pertengahan abad kedua, di bawah pemerintahan yang adil oleh para Kaisar seperti Trajanus, Antonimus Pius, dan Marcus Aurelius, Gereja mulai membuka diri pada dunia luar untuk meyakinkan keberadaannya. Yustinus menjadi salah seorang “Apologist” (orangyang mempertahankan pendiriannya dalam argumentasi) Kristen pertama, yang menjelaskan imannya sebagai sistem yang masuk akal. Bersama-sama penulis lain, seperti Origenes dan Tertullianus, ia menafsirkan kekristenan dalam istilah-istilah yang mudah dikenal orang-orang Yunani dan Romawi terpelajar pada masa itu.[14]
b.       Irenaeus (177 M).
Ia adalah seorang penentang Gnostisisme pada akhir adab ke dua. Mungkin ia di lahirkan di Asia Kecil lebih kurang pada tahun 125 M. Perdagangan yang lancar antara Asia Kecil dan Gaul (Perancis) memberi  peluang bagi orang-orang Kristen untuk membawa agamanya ke Perancis, tempat mereka mendirikan sebuah gereja yang tangguh di kota Lyons. [15]
Irenaeus, setelah diangkat menjadi uskup Lyons, ia mempelajari Gnostik dan menulis buku mengenai ajaran yang dianggapnya sesat ini. Karyanya berjudul ‘Againts Heresies’, suatu karya yang membeberkan kebodohan ajaran Gnostik.
Dengan menyitir gambaran dari  Perjanjian Lama dan Baru, ia membuktikan bahwa dunia diciptakan Allah yang penuh cinta kasih, yang kemudian ternoda oleh dosa-dosa manusia.[16]
Irenaeus pernah mengenal Polikarpus, yang pernah akrab dengan Rasul Yohanes. Ia berpegang teguh pada ajaran-ajaran Kristus yang disampaikan oleh Rasul-Rasulnya. Baginya inilah dasar keimanan.
c.      Tertullianus (196 M)
          Ia merupakan seorang pengacara kelahiran Afrika yang dapat berbahasa Yunani. Ia merupakan seorang penulis . Ia lahir di Kartago, dibesarkan dalam keluarga berkebudayaan kafir serta terlatih dalam kesusatraan klasik, penulisan orasi dan hukum. Pada tahun 196 ketika ia mengalihkan kemampuan intelektualnya pada pokok-pokok Kristen, ia mengubah pola pikir dan kesusatraan Gereja di wilayah Barat.[17]
         Ketika orang-orang Kristen Yunani masih bertengkar tentang keIlahian Kristus serta hubungan-Nya  dengan Bapak.Tertullianus sudah berupaya menyatukan kepercayaan itu dan menjelaskan posisi ortodoks. Maka, iapun merintis formula yang sampai hari ini masih kita pegang: Allah adalah satu hakikat yang terdiri dari tiga pribadi.
         Ketika ia menyiapkan apa yang menjadi doktrin Trinitas,Tertullianus tidak mengambil terminologinya dari para filsuf,tetapi dari pengadilan Roma. Kata latin “Substansia” bukan berarti “bahan” tetapi “hak milik”. Arti kata “persona ”bukanlah” pribadi” (person), seperti yang lazim kita gunakan, tetapi merupakan suatu pihak dalam suatu perkara  (di pengadilan). Dengan demikian jelaslah bahwa tiga “personae” dapat berbagi satu”substansi” tiga pribadi (Bapak, Putra, dan Roh Kudus) dapat berbagi satu hakikat (kedaulatan Ilahi). [18]

8.     Kekristenan Menjelang Pertobatan Konstantin
Di wilayah Barat, Kristen versi Paulus menjalani fase kemajuan. Orang-orang non-Yahudi, ketika hendak memahami ajaran ini, merasa tidak terlalu kontradiktif dengan pemahaman mereka yang politeistik yang berisikan tahayul serta mitos-mitos yang irrasional. Paulus sedikit demi sedikit memberikan bentuk pada wajah Kristen. Hingga kematiannya, ajaran ini banyak diadopsi dan semakin lama semakin berkembang.
Berkebalikan dengan itu, para pengikut Petrus yang menyebarkan Injil ke luar Yerusalem, tidak ada kemajuan yang berarti. Ini disebabkan mereka memokuskan penyebaran Injil kepada orang-orang Yahudi. Itulah mengapa, terjadi perubahan posisi dalam status kepopuleran suatu ajaran agama. Dominasi Kristen versi Yakobus dan Petrus sirna dan tenggelam dalam kegemerlapan Kristen versi Paulus.
Paulus tidak sepenuhnya merubah tatanan Kekristenan. Namun, ia sedikit demi sedikit mengadaptasikan ajaran Kristen dengan kebudayaan Paganismee dan ia menginginkan agar ajaran Kristen memisahkan diri dari Yudaisme sehingga Kristen menjadi sebuah agama yang independen. Ternyata, meskipun banyak yang terpikat dan menggabungkan diri dengan agama baru ini, Kekristenan belum mampu mengakomodir seluruh kepercayaan-kepercayaan Paganismee yang masuk ke dalam tubuh Kristen. Apalagi kalau berhubungan dengan penyembahan terhadap dewa-dewa. Memang indikasi paganisasi telah menjalar dalam tubuh Kristen, tapi perubahan tersebut begitu halus. Di satu sisi mempertahankan otentisitas Kekristenan di sisi lain harus beradaptasi dengan kepercayaan lokal yang kontemporer pada masa itu.
Para peneliti juga dibingungkan apakah di seluruh kawasan yang telah mengadopsi Kristen versi Paulus memiliki pemahaman yang sama mengenai Kekristenan? Dan sampai dimana pengaruh dari Petrus dalam penyebaran Injilnya? Pertama, sulit untuk menemukan data yang valid untuk mengadakan prosentase antara orang-orang Yahudi dengan non-Yahudi khususnya di luar wilayah Yerusalem. Kedua, melihat faktor komunikasi, sulit untuk menyebarkan informasi-informasi yang berhubungan dengan Kekristenan. Ketiga, sampai dimana peran Paulus dalam mengadakan perubahan-perubahan dalam ajaran Kristen dan apa reaksi kelanjutan dari mereka yang menerima pemberitaan Paulus.
Kita hanya dapat mengalisis permasalahan ini dengan kisah-kisah apa saja yang diceritakan pada masa itu. Abad kedua Kekristenan diliputi dengan banyaknya pensyahidan-pensyahidan para tokoh-tokoh Kristen. Memang, sulit untuk mengklasifikasi mereka ke dalam Kristen versi mana. Namun, setidaknya dari jejak-jejak sejarah ini kita dapat membuat sedikit kesimpulan. Kita kembali kepada pembahasan. Sebab-sebab yang dikemukakan oleh para penulis sejarah Kristen cenderung menyimpulkan bahwa keengganan orang-orang Kristen untuk menyembah dewa-dewa merekalah yang menjadi sebab pembantaian atas diri mereka.
Contoh kecil, Polikarpus (156M) seorang uskup Kristen yang tinggal di Smyrna harus mengakhuri hidupnya demi mempertahankan imannya. Ia dan para pengikutnya menolak menyembah kaisar dan dewa-dewa Romawi, padahal mereka telah menjadikan Kristus sebagai sesembahan dengan ada konsep “anak Tuhan” versi Paulus. Berikut ini adalah dialog terakhir antara Polikarpus dengan seorang Gubernur Romawi.
“Hormatilah usiamu, Pak Tua,” seru Gubernur Romawi itu. “Bersumpahlah demi berkat kaisar. Ubahlah pendirianmu serta beserulah, “Enyahkan orang-orang kafir!”
Sebenarnya, Gubernur Romawi itu ingin Polikarpus menyelamatkan dirinya sendiri dengan melepaskan dirinya dari orang-orang Kristen yang dianggap “kafir” itu. Namun, Polikarpus hanya memandang kerumunan orang yang sedang mencemohkannya. Sambil mengisyaratkan ke arah mereka, ia berseru, “Enyahkan orang-orang kafir!”
Gubernur Romawi itu berusaha lagi, “Angkatlah sumpah dan aku akan membebaskanmu. Hujatlah Kristus!”
Uskup itu pun berdiri dengan tegar. Ia berkata, “Selama delapan puluh enam tahun aku telah mengabdi kepadanya dan ia tidak pernah menyakitiku. Bagaimana aku dapat mencaci raja yang telah menyelamatkanku?”[19]
Memang, sejarah membukukan bahwa telah terjadi pembantaian besar-besaran kepada orang-orang Kristen, apakah itu Yahudi Kristen yang mengalami diaspora atau kepada orang-orang non-Yahudi yang masuk Kristen. Tetapi, secara pasti tidak dapat dianalisis tempat-tempat mana saja yang mengalami pembantaian ini. Di suatu tempat seperti Roma ibu kota kekaisaran Romawi, meskipun telah banyak yang masuk ke dalam agama Kristen, tetap saja mereka yang masih memeluk Paganismee merasa aneh dengan Kekristenan. Ini seperti perjalanan sejarah dari suatu paham keagamaan yang mula-mula ditentang habis-habisan oleh golongan mayoritas.
Uniknya, pengadaptasian Kristen dengan kondisi kehidupan masyarakat Romawi mulai terlihat hasilnya. Mereka dari waktu ke waktu mulai menerima ajaran Kristen yang pada awalnya dinilai sedikit berbeda. Masa demi masa, masyarakat mulai sadar akan kebenaran Kristus. Apalagi, dalam ajaran Paulus banyak penyisipan-penyisipan mitologi-mitologi dan tahayul-tahayul dalam tubuh Kekristenan. Meskipun demikian, abad ke-2 Kekristenan harus dilalui dengan perjuangan iman melawan ortodoksi paganis Romawi.
Dan inilah yang telah digambarkan oleh Islam dengan sebutan kebangkitan orang-orang “ashabul kahfi”. Banyak para mufassirin Islam yang terjebak dalam menafsirkan permasalahan ini. Mereka menafsirkan ayat yang berkenaan dengan ini dengan cara menyisipkan kisah-kisah yang tidak masuk akal. Orang-orang yang termasuk dalam “ashabul kahfi” digambarkan sebagai manusia yang supranatural. Mereka tidur hingga dua abad lamanya, tanpa makan dan minum di sebuah gua guna menghindarkan diri dari kelaliman seorang raja.
Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad dalam Tafsir Kabirnya menafsirkan ayat yang berkenaan dengan masalah ini dengan cara yang benar-benar masuk akal. Dikatakan:
Tengah saya mencari-cari, kebetunlah sekali kepada saya diberikan sebuah buku yang bernama “Catacombs of Rome”. Keringkasan dari isi buku itu ialah, kaum Masehi pada permulaannya tidaklah musyrik. Dalilnya ialah, dekat Roma ada gua-gua dari zaman dahulu, saat kaum Masehi bersembunyi ke dalamnya karena menghindarkan diri dari penganiayaan pemerintah Roma. Di sana terdapat banyak batu-batu tertulis yang melukiskan keadaan di zaman itu. Dari peninggalan-peninggalan itu dapat diketahui bahwa permulaannya dalam agama Masehi tidak ada syirik. Mereka mempercayai Al-Masih hanya sebagai seorang Nabi yang menunjukkan jalan keselamatan kepada mereka. Penganiayaan kepada mereka yang menunjukkan jalan keselamatan kepada mereka. Penganiayaan kepada mereka berlangsung berabad-abad lamanya. Bilasaja penindasan menjadi-jadi mereka pergi bersembunyi ke gua-gua tersebut, dan mengumpulkan bahan-bahan makanan untuk tinggal di sana, sehingga mereka kadang-kadang terpaksa bersembunyi di sana bertahun-tahun lamanya. Akhirnya, setelah menderita tiga ratus tahun lamanya, barulah penderitaan kaum Masehi berakhir, ketika seorang raja Roma masuk Kristen.[20]
Dan agama Kristen benar-benar diakui setelah kaisar Konstantin masuk ke dalam agama Kristen. Demikianlah evolusi ajaran Kristen yang menempuh periode yang panjang sehingga ia mendapat bentuknya yang dapat diterima secara luas oleh masyarakat Romawi.
Ini adalah salah satu momentum menentukan bagi perubahan dahsyat dalam kurun waktu dua abad. Jika kita meninggalkan Roma pada tahun 305 M, tinggal di padang pasir, dan dua puluh tahun kemudian kita kembali, kita akan mengira bahwa Kekristenan telah punah karena penganiayaan. Tetapi ternyata sebaliknya, Kekristenan telah menjadi agama yang sangat diminati.
Namun, dipenghujung abad ke-3 M, pembantaian terhadap orang-orang Kristen mencapai klimaksnya. Di wilayah timur Kekaisaran Romawi yang dipimpin oleh Galerius, pembantaian terhadap orang-orang Kristen tampak ganas. Pada Hari Raya Terminalia, tanggal 23 Februari, geraja-geraja dihancurkan, Alkitab dirampas dan kebaktian dilarang. Akan tetapi, pembantaian ini berakhir hingga tahun 310 M. Galerius tidak berhasil menghancurkan gereja. Anehnya, dalam keadaan sekarat ia berubah pikiran. Pada tanggal 30 April 311, Galerius yang ganas itu nenyerah. Ia berhenti memerangi orang-orang Kristen dengan mengeluarkan Edik/Maklumat Kebebasan Beragama (Edict of Toleration). Sebagai seorang politisi, ia menekankan bahwa ia telah berbuat segala sesuatu untuk kekaisaran, namun, “sejumlah besar” orang Kristen ketika itu tetap berpegang pada tekad mereka” . Maka, sekarang sudah waktunya memberi mereka kebebasan berkumpul, selama mereka melakukannya dengan tertib. Selanjutnya ia menyerukan juga bahwa adalah “kewajiban mereka untuk berdoa kepada dewa mereka untuk kebaikan negara kita”. Roma membutuhkan semua bentuk pertolongan yang memungkinkan. Galerius wafat enam hari kemudian.
Namun, sekema Dioceletianus menjadi berantakan. Setelah Konstantin wafat tahun 305, putranya, Konstantin dinyatakan sebagai penguasa oleh para prajurit yang setia kepadanya. Tetapi, Maximianus yang sudah pensiun berupaya kembali dan memerintah lagi wilayah Barat bersama-sama dengan putranya, Maxentius (yang akhirnya melucuti kekuasaan ayahnya sendiri). Sementara itu, Galerius telah menunjuk Licinius, jenderal kesayangannya, sebagai penguasa wilayat Barat. Masing-masing calon penguasa ini menuntut hak atas sebagian wilayah Barat ini. Mereka harus berperang untuk itu. Dengan cerdik, Konstantin melawan Maxentius. Pada pertempuran Milvian Bridge, Konstantin menang.
Di sana, konstantinus dan Licinus menunjukkan kekuatan berimbang. Konstantinus sangat berhasrat mengucapkan syukur kepada Kristus, oleh karenanya ia tergerak untuk memberikan kebebasan dan status bagi Gereja. Pada tahun 313 M, ia bersama-sama Lucinius secara resmi mengeluarkan Edik Milano (Edict of Milan) yang menjamin kebebasan beragama di seluruh kekaisaran. Instruksi tersebut berbunyi : “ tujuan kita adalah untuk mengizinkan baik orang-orang kristen maupun yang lain dengan bebas beribadah sesuai dengan kepercayaannya masing-masing. ”
Segera Konstantinus menaruh perhatian pada Gereja, memulihkan harta, menyumbangkan uang, mengendalikan kontroversi dengan kaum Donatis serta mengadakan konsili-konsili Gerejadi Arles dan Nicea. Ia juga berebut kekuasaaan dengan Licinius, yang ia gulingkan pada tahun 324 M.
Dengan demikian Gereja tidak lagi menjadi sasaran serangan, melainkan mendapat perlakuan istimewa. Dalam waktu yang sangat singkat, prospeknya berubah sama sekali. Setelah berabad-abad lamanya sebagai gerakan kebudayaan tandingan, Gereja diharuskan belajar cara menangani kekuasaan. Namun semuanya tidak dilakukan dengan baik. Kehadiran Konstasntinus yang dinamis membentuk Gereja pada abad ke-4 dan seterusnya. Ia adalah pakar kekuasaan dan politik, dan Gereja pun belajar menggunakan alat-alat tersebut.

9.     Konsili Nicae
a.        Arianisme dan Athanasianisme
Menjelang Konsili Nicae tahun 325 M pada awal abad ke-4 masehi berkemang dua ajaran keyakinan yang saling berlawanan dalam dunia Keristen dalam dewasa itu, yaitu: Arianisme dan Athanasianisme.
Arianisme itu ajaran Patriarch Arius (wafat 336 M), yang menjabat Uskup Agung (patriarch) pada ibu kota imperium Roma Timur di Constantinople, bekas murid Paul Samosta pada kota-besar Antiokia.
Athanasianisme itu ajaran Bishop Anthanasius (239-373 M). Yang menjabat Bishop (uskup) pada bandar Alexandria, Egypte, bandar dagang yang makmur dewasa itu dan pusat Filsafat Neoplatonism.
Inti pokok keyakinan yang dianut Arianisme itu, (lihat Enscyclopedia Americana edisi 1976 jilid II halam 281; dan silahkan lihat Jesus, Prophet of Islam edisi 1977 halaman 79-96), bahwa Allah itu Maha Esa dan bukan dilahirkan (Agennetos) dan menciptakan segalanya dari tiada menjadi ada. Jesus Kristus itu Cuma makhluk biasa yang diciptakan (genetos) tetapi menjabat Prophet Of God (Rasul-Allah). Justru karena itu maka Perawan Maria (Virgin Mary) tidak layak dipanggil Mother Of God (Ibu dari Tuhan) karena dia itu cuma melahirkan manusia biasa.
Inti pokok keyakinan yang dianut Athanasianisme itu (lihat Encyclopedia Americana Edisi 1976 Jilid II halaman 603; dan silahkan lihat Jesus Prophet Of Islam edisi 1977 halaman 96-97), bahwa Allah itu Maha Esa akan tetapi terdiri atas tiga oknum yaitu Allah-Bapa dan Allah-Anak dan Allah-Rohulkudus. Jesus Kristus beserta Rohulkudus itu bersama zat (Homo-ousios) dan zat Allah-Bapa.
Bishop Athanasius itu mempertahankan pokok-pokok keyakinan yang diajarkan Paulus, seperti termuat di dalam himpunan Surat-surat Paulus
Itulah dua jenis keyakinan yang berkembang dalam dunia Kristen sejak abad pertaman beserta abad-abad berikutnya, sampai kepada masa berlangsung Konsili Nicae pada tahun 325 M.
b.       Konsili Nicae tahun 325M
Constantine the Great (311-337 M) adalah Kaisar Roma yang pertama-tama memeluk agama Kristen dan mengumumkan agama Kristen itu adalah Agama-Resmi dalam wilayah imperium Roma, menggantikan Paganisme.
Kaisar-kaisar yang sebelum Constantine the great itu tetap menganut Paganisme, yaitu pemujaan terhadap dewa-dewa dan dewi-dewi menuruti mithologi Grik dan roma. Seumpama dewa Zeus (Jupiter), dewi Hera (Juno), dewa Apollo (Apollo), dewi Artemis (Diana), dewa Ares (Mars), Dewi Aphrodite (Venus), dewa Dionysos (Bacchus), dan lain-lainnya.
Sementara itu dalam kalangan rakyat umum, semenjak sebelum abad pertama Masehi dan abad-abad berikutnya, luas berkembang apa yang dikenal dengan agama-agama-misteri (Mystery Religious) dengan upacara-upacara misteri yang cuma boleh diikuti oleh kelompok pengikut satu persatunya saja. Sebuah mithologi yang sangat terkenal dalam agama Misteri itu bahwa dewa Adinis sengaja mengorbankan dirinya untuk kepentingan manusia hingga sang ibu (mater dolorosa)  amat berdukacita senantiasa atas korban puteranya itu. Akan tetapi korban dewa Adonis itu atas kehendak dewata – bapa yang menaruh kasihan akan penderitaan umat manusia.
Sejarah mencatat bahwa kaisar-kaisar roma itu sering melakukan penganiayaan secara luas terhadap umat Kristen maupun ummat Yahudi dalam wilayah imperium Roma, terutama pada masa kaisar Nero (54-68 M), Kaisar Demitianus (81-96 M), Kaisar Trajanus (98-117 M), dan terutama pada masa kaisar Diolectianus (284-305 M).
Hal itu disebabkan Kaisar-kaisar Roma itu, semenjak Kaisar Caligula (37-41 M), mengumumkan dirinya Titisan Dewata (Son Of God) dan lalu memaksakan rakyat umum dalam wilayah-wilayah imperium Roma itu untuk melakukan pemujaan terhadap patungnya. Tetapi hal itu senantiasa beroleh tantangan dari pihak umat Kristen maupun umat Yahudi yang mempunyai keyakinan Ilahi tersendiri.
Pada masa Constantine the Gret (311-337 M), terjadilah perubahan bagi ummat Kristen karena kaisar Roma itu mengumumkan dirinya memeluk agama Kristen dan mengumumkannya sebagai agama resmi dalam wilayah imperium Roma.
Tetapi kaisar Constantine itu pada akhirnya dihadapkan kepada kebingungan karena mendadak dihadapkan kepada dua jenis keyakinan yang sangat berlawanan sekali, yaitu Arianisme dan Athanasianisme.
Diskusi-diskusi keagamaan tidak memberikan kepuasan bagi kerohaniannya karena tidak mungkin ada dua jenis keyakinan dalam satu agama. Tersebab itulah dia menganjurkan kepada para Uskup (Bishop) dalam wilayah imperium Roma untuk mengadakan sidang Gereja untuk membicarakan dan menetapkan Keyakinan – Resmi di dalam agama Kristen itu.
Tersebab itulah lahir Konsili Nicae pada tahaun 325 M, yaitu Sidang Gereja Sedunia yang pertama-tama dalam sejarah Kristen, dihadiri oleh para Uskup (Bishop) sejak kepulauan Britain sampai Asia Kecil. Kedua jenis keyakinan itu punya pendukung di antara para Uskup (Bishop) pada hampir setiap wilayah. Kedua belah pihak sama hadir di Nicae, sebuah kota-benteng pada pinggir selat Bosporus dalam wilayah Asia Kecil, berhadapan dengan ibu kota Constantionople.
c.        Pemungutan Suara dalam Konsili Nicae
Kedua belah pihak, yaitu para pendukung Arianisme dan para pendukung Athanisianism, sama membicarakan dan membahas keyakinan yang sebenarnya di dalam agama Kristen. Arius dan Athanasius merupakan tokoh utama dalam Konsili Nicae itu.
Konsili Nicae itu berlangsung dalam tempo yang sangat lama. Dalil lawan dalil. Argumentasi-lawan argumentasi akan tetapi tidak pernah tercapai konsensus, yaitu persetujuan pendapat.
Kaisar Constantine mulai merasakan muak menyaksikan jalan sidang yang memakan tempo yang demikian lamanya. Pada akhirnya ditetapkan keputusan untuk melakukan pemungutan suara dalam menetapkan Keyakinan Resmi di dalam agama Kristen.
Athanasianisme memperoleh kemenangan di dalam pemungutan suara (voting) itu karena para Uskup (Bishop) yang mendukung merupakan mayoritas dalam sidang Konsili Nicae itu.
Athanasianisme dinyatakan Keyakina-Resmi di dalam agama Kristen dan Arianisme itu dinyatakan Heresy, suatu ajaran Bid’at. Para pendukung Arianisme itu dituntut menundukkan diri kepada keputusan Konsili dan menyatakan “taubat” dari keyakinan yang dianut selama ini.
Patriach Arius menolak untuk menyatakan “taubat” dari keyakinan yang dianutnya itu, maka dengan meminjam wewenang kaisar Constantine, iapun ditangkap dan dijerumuskan ke dalam penjara bawah tanah (dungeon) pada sebuah pulau kecil di selat Bosporus dengan menderitakan berbagai siksaan. Begitu pula dengan para Uskup (Biship) yang tidak hendak “bertaubat” dari keyakinannya. Tetapi sebagiannya, karena mempertimbangkan kedudukan. Lantas beralih pendirian dan lalu menganut Athanasianisme.
Oleh karena Arianisme itu dinyatakan suatu ajaran Bid’at (heresy) oleh Konsili Nicae itu maka seluruh rumah-rumah ibadat (chapels) dan rumah-rumah biara (cloister) yang tadinya dimiliki oleh para pendukung Arianisme pada setiap wilayah itu lantas diambil alih seluruhnya oleh para pendukung Athanasianisme.
Oleh karena Arianisme itu dinyatakan suatu ajaran Bid’at (heresy) oleh Konsili Nicae maka seluruh literatur yang menjadi pegangan Arianisme itu dirampas seluruhnya dan lalu dibakar dan dimusnahkan pada Abad ke-4 masehi itu.[21]









BAB III. PENUTUP

Kesimpulan
Demikianlah penelaahan kami untuk menganalisis peristiwa-peristiwa apa saja yang terjadi di tiga abad pertama. Kami berusaha seobyektif mungkin dalam menganalisis permasalahan ini dengan berbagai macam pendekatan keilmuan. Selain kami menyampaikan hasil riset kami ini dengan apa adanya, kami berusaha membuktikan apa yang menjadi keyakinan kami. Semata-mata demi kebenaran, hati kami tergerak untuk mengadkan penyelidikan.
Tiada yang tela kalau seseorang yang menganur sebuah ajaran agama, dicap bahwa ajaran agamanya irrasional. Inilah yang kami rasakan dalam tubuh Kristen. Kristen telah membenamkan segi-segi rasionalisme dalam ajarannya. Meskipun mayoritas, kuantitas itu diraih hanya dengan menjual otentisitas ajaran Kristen. Inilah hasil dari rekayasa khayalan manusia yang mencoba agar ajaran dari suatu agama dapat diterima.
 Apa yang terjadi dalam Kristen sekarang, itulah yang kebenarannya. Kekristenan telah melangkah jauh melampaui batas rasionalitas keagamaan. Ia sekarang telah memasuki dunia khayali yang penuh dengan imaji, tahayul dan mitologi-mitologi.
Jadi, anda yang membaca tulisan ini boleh tidak percaya terhadap hasil riset kami. Tetapi kami mempersilahkan berargumentasi dengan berbagai macam pendekatan ilmu.





[1] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, jilid II, hal. 594, pada kata Kristus

[2] Dr. Maurice Bucaile. Bibel, Qur’an dan Sains Modern. Bulan Bintang, Jakarta. 1978, hal.67
[3] Joesoef Sou’yb. Agama-agama Besar di Dunia. Al Husna Zikra. Jakarta. 1996. Hal. 324-325

[4] Joesoef Sou’yb. Agama-agama Besar di Dunia. Al Husna Zikra. Jakarta. 1996. Hal. 326

[5] ibid, hal. 327

[6] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid II, Hal. 209, pada kata “Paulus”

[7] A.Kenneth Curtis dkk,100 peristiwa penting dalam sejarah Kristen,BPK Gunung Mulia,Jakarta,2003,halaman 2
[8] Joesoef Sou'yb, Agama-agama besar di dunia, Al-Husna Zikra, Jakarta, 1996, halaman 328

[9] A.Kenneth Curtis dkk,100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2003, hal. 2
[10] ibid,hal 3
[11] ibid.hal,3-4
[12] Dr.Maurice Bucaille, Bible, Al Quran dan Sains Modern, Bulan Bintang, Jakarta, 1992, hal 69).

[13] ibid, hal 70
[14]  A. Kenneth Curtis dkk. 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, BPK Gunung Mulia, 2003, hal. 5

[15] Ibid, hal. 9

[16] Ibid, hal. 10

[17] ibid.hal.11
[18] ibid.hal.11
[19] A.Kenneth Curtis dkk,100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2003, hal. 8
[20] Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Tafsir Kabir Surah Al-Kahfi, penerjemah: H Abdul Wahid HA, 1999, hal.39-40

[21] Joesoef Sou’yb. Agama-agama Besar di Dunia. Al Husna Zikra. Jakarta. 1996. Hal. 340-347

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar